oleh

Saldo Minimum Nasabah Mengendap di Tabungan, Dalih Bank

JAKARTA – Serrejang News -,Satu hari, Dita sempat keki usai memasukkan kartu di sebuah Anjungan Tunai Mandiri (ATM) milik bank pelat merah. Setelah menekan tombol nominal penarikan uang, muka layar ATM tertulis “Saldo Anda Tidak Mencukupi Untuk Melakukan Transaksi Ini”.

Sial memang, padahal ia tidak memiliki uang sepeserpun di dompet. Seingatnya, saldo yang tersisa di rekeningnya masih tersisa sekitar Rp100 ribuan. Uang yang ditarik Dita di atas dari “saldo minimum ditahan”.

“Agak keki juga waktu itu. Lagi butuh-butuhnya duit, tapi enggak bisa ambil. Padahal masih ada Rp100 ribu di rekening. Lumayan besar itu buat saya yang masih menjadi mahasiswi,” kata perempuan berusia 30 tahun media

Ia mengaku sampai saat ini masih tidak paham mengapa bank masih memiliki kebijakan menahan saldo. Padahal, setiap bulan, bank juga selalu memotong uang di rekening untuk biaya administrasi.

Menurut Kamus Bank Indonesia, saldo rekening adalah jumlah yang ada pada akun setelah pembebanan biaya jasa penarikan, pendebitan dan pengkreditan setoran, serta hasil kliring penarikan cek.

Selain itu, saldo rekening juga dapat digunakan untuk rekonsiliasi dengan membandingkan laporan bank dengan buku cek. Sedangkan saldo mengendap atau saldo ditahan, adalah saldo tabungan yang tidak bisa ditarik nasabah.

Berdasarkan penelusuran media, besaran saldo yang dibuat mengendap oleh bank sangat beragam, tergantung bank. Bank-bank BUMN misalnya, Tabungan Mandiri mematok saldo ditahan sebesar Rp100.000. Ada juga Simpedes BRI sebesar Rp50.000, dan BNI Taplus Rp15.000,.

Bank swasta juga tak jauh berbeda, untuk tabungan Tahapan BCA, bank ini mematok saldo mengendap Rp50.000. Saldo ditahan untuk tabungan Danamon Lebih sebesar Rp50.000, dan masih banyak lainnya.

Apa dalih perbankan menerapkan saldo ditahan?

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menjelaskan penerapan saldo ditahan merupakan kebijakan masing-masing bank. Dalam hal ini, OJK selaku badan pengawas lembaga keuangan, sama sekali tidak mengatur besaran tertentu untuk saldo ditahan.

“Ini masalah kebijakan masing-masing bank. Kami enggak atur itu. Tapi yang pasti, saldo ditahan memang untuk menutupi overhead cost bank dalam mengelola deposan,” kata Heru Kristiana, Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK kepada wartawan.

Overhead cost yang dimaksud Heru adalah biaya operasional yang bersifat rutin, selain biaya bunga. Contohnya, biaya umum dan administrasi, tenaga kerja, biaya sewa, biaya penyusutan aset dan peralatan kantor, termasuk biaya cetak buku tabungan dan lain sebagainya.

Untuk itu, besaran saldo ditahan tiap bank bisa berbeda-beda, tergantung dari strategi masing-masing bank untuk meningkatkan daya saing produknya. Salah satu cara untuk meningkatkan daya saing itu adalah mengembangkan produk berbasis teknologi informasi.

“Dengan teknologi informasi, semua biaya bisa diminimalisir, bahkan bisa gratis, karena beberapa biaya kegiatan seperti cetak buku tabungan, promosi dan lain-lain bisa dikurangi atau dihilangkan,” tutur Heru.

Salah satu contoh adalah rekening tabungan Xtra Pandai dari CIMB Niaga. Calon nasabah tanpa perlu ke bank untuk bisa mendapatkan rekening. Selain itu, tabungan itu juga bebas biaya, mulai dari gratis biaya di bawah saldo minimum, administrasi bulanan, penutupan rekening dan lainnya.  (tt-red)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed