oleh

Geger potongan liar Terhadap Tenaga Kontrak di Pemadam Kebakaran Kepahiang

Serrejang News – KEPAHIANG -, Pemotongan yang terjadi terhadap Para tenaga Kontrak(TK) pada Satuan Polisi Pamong Praja dan Pemadam Kebakaran kabuapten Kepahiang, di keluhkan para tenaga kontrak sehingga beberapa Orang mendatangi salah satu kantor media Onlen yang beralamat di kabupaten kepahiang guna menyiarkan berita yang menurtut mereka ini merupakan perbuatan salah dan harus di ketahui Publik.

Seperti di lansir oleh media PotretRaflesia.com tanggal 23 mei 2019, adanya empat orang TK yang mendatangi Kantor Biro potretraflesia.com kepahiang. yaitu  Erwan, Endang, Doni dan Topik. Dalam penjelasan mereka adanya kegiatan pemotongan honor tenaga Kontrak atas nama sumbangan yang ditetapkan nominalnya pada saat membayar rapel honor bulan Januari, februari dan maret 2019 yang lalu, berkisar 100 sampai 150 ribu per TK.

“TK di pemadam kebakaran ini untuk operasional ada 31 orang dan ada 6 orang yang tidak mau dipotong, namun saat itu pak Kabid kami mengatakan terserah kalau tidak mau dipotong namun harus terima resiko nanti, ya, kami setengah diancam lah, makanya kami akhirnya nekat mau mengangkat masalah ini ke media, ini sudah keterlaluan, kalau sumbangan mestinya tidak ditentukan lah nominalnya, iya kan”, jelasnya.

 Selanjutnya “Kami sempat mempertanyakan perihal sumbangan tersebut untuk apa kepada staf, mereka mengatakan pemotongan tersebut atas perintah bupati, dan akan disetorkan kepada bupati, ya kami pikir tidak mungkin lah bupati minta setoran begitu, kalau dikalikan 100 ribu saja uang tersebut hanya 3 jt an, kan tidak mungkin”, jelas topik.

Diluar pemotongan berkedok sumbangan tersebut, ada hal aneh lainnya, yaitu TK yang dirumahkan per 31 Desember tetap mendapatkan honor yang sama dengan yang tetap bekerja, padahal di surat perjanjian kerja jelas aturan yang harus di jalani.

“Ada 11 orang, 1 orang mengundurkan diri setelah dirumahkan, sehingga TK yang di rumahkan menjadi 10 orang, dan 10 orang ini lah yang masih menerima honor yang sama seperti yang masih bekerja, mereka hanya di potong 150 masing-masing dan kemudian ditarik kembali untuk bekerja. Yang jadi pertanyaan aturan mana yang digunakan atas kami sampai yang dirumahkan masih menerima honor yang sama dengan yang bekerja, apa 10 orang ini orang orang istimewa?” papar Iwan dan tofik.

Ditegaskan topik, di surat perjanjian kerja nomor 800/115/Skrt tahun 2019, pada pasal 3 ayat 5 tertera ‘honorarium sebagaimana dimaksud pada ayat (4) dibayar setiap tanggal 10 dengan ketentuan akan diperhitungkan atau dikurangi sebesar 5% dari honorarium per bulan apabila pihak kedua tidak masuk kerja tanpa keterangan (TK)’.“Nah ini di rumahkan yang otomatis tidak pernah masuk dan tidak pernah kerja tapi masih di gaji penuh, kami minta bupati melakukan tindakan tegas atas perlakuan ini”, ujar topik.(sumber PR- red)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed